Kepala Dusun dan Istrinya Menyaru sebagai Intel Polda Ujung-ujungnya Menipu

  • 2018-10-17 penulis : Agung Priyo
  • Editor :junaedi
  • dibaca :627
Kepala Dusun dan Istrinya Menyaru sebagai Intel Polda Ujung-ujungnya Menipu Kasun Desa Trajen dan Istrinya yang diringkus polisi dan sejumlah barang buktinya.(guest)

MALANG - Pasangan suami-istri (Pasutri) warga Dusun Trajeng, Pakisjajar, Pakis, Kabupaten Malang disergap polisi. Itu lantaran keduanya menyaru sebagai anggota Intel Polda Jatim untuk membantu membebaskan tersang kasus narkoba.

Kedua Pasutri itu adalah M Gozali, 38, yang terjata perangkat desa atau Kepala Dusun (Kasun) Trajeng. Sedangkan istrinya, Yeni Puji Lestari, 38, seorang ibu rumah tangga. 

"Mereka berdua ini kami tangkap di rumahnya. Selain menipu dengan mengaku sebagai anggota Intel Polda Jatim, mereka juga menyekap korbannya selama dua hari," jelas Kasatreskrim Polres Malang, AKP Adrian Wimbarda, Rabu (17/10).
 
Barang bukti kejahatan yang berhasil diamankan setu pistol korek api yang digunakan menakuti korban, HP serta kartu identitas KTP milik korban, satu unit mobil Toyota Landcruiser Hartop B-1022-GCV. 

Penipuan yang mereka lakukan, tepatnya pada 30 September 2018 lalu. Korbannya, Istiqomah, 37, warga Jalan Puntadewa, Kecamatan Tumpang. 

Penipuan yang dilakukan saat suami korban ditangkap Satreskoba Polres Malang, pada 27 September. Suami korban ditangkap polisi karena kasus narkotika.
 
Tersangka Yeni, yang mengaku anggota Intel Polda Jatim, mendatangi korban. Dia pun mengaku bisa membebaskan suami korban, asalkan ada jaminan uang. Tersangka meminta uang Rp 25 juta untuk jaminan bebas, dan Rp 3,2 juta untuk pengganti barang bukti sabu-sabu (SS). 

Korban percata, karena ingin suaminya segera selesai dari jerat hukum. Korban menyerahkan uang yang diminta pelaku. Setelah uang diterima, tersangka mengembalikan uang Rp 10 juta kepada korban untuk meyakinkan. 

Namun selang beberapa hari, korban dipanggil ke rumah tersangka. Saat itu, tersangka mengatakan bahwa nama korban juga tercatat sebagai target operasi (TO) polisi.

Tersangka pun mengaku bisa menghapus nama korban dari TO, asalkan bisa membayar Rp 350 juta.
 
Korban pun menawar Rp 150 juta. Setelah disepakati, tersangka sempat menyekap korban di rumahnya. Mereka meminta supaya uang segera diberikan. Tersangka sempat mengancam akan

Berita Terkait

Baca Juga