Sisi Laten Geopolitik Jawa Pedalaman vs Jawa Pesisir dalam Hubungan Penguasa-Ulama | Portal Berita yang menyajikan informasi dan berita terbaru hari ini

Close

Sisi Laten Geopolitik Jawa Pedalaman vs Jawa Pesisir dalam Hubungan Penguasa-Ulama

  • 23-10-2018
  • Editor :goly
  • dibaca :227963
Sisi Laten Geopolitik Jawa Pedalaman vs Jawa Pesisir dalam Hubungan Penguasa-Ulama Ilustrasi Wali Songo

pulau Madura sampai Bawean dan Kangean, bahkan sampai ke Ternate dan Haruku.
Siasat Boang memberikan didikan Islam kepada Raden Patah, putra Brawijaya V Majapahit, dengan terlebih dahulu menyediakan Demak Bintoro untuk menegakkan Negara Islam. Jadi Bonang lebih condong mengikuti bakat khususnya sebagai politisi. Adapun Sunan Giri, mengajarkan agama Islam dan mengirim para mubaligh ke mana-mana adalah siasat mendekati masyarakat.


Sayangnya, Sunan Bonang hanya sempat berhasil mendirikan kerajaan Demak dengan membidani kemunculan Raden Patah sebagai Sultan Demak pertama. Namun tujuan strategisnya untuk menjadikan Demak sebagai pusat Islam selama-lamanya, tidak berhasil. Sebab setelah Raden Patah, Pati Unus dan Sultan Trenggono, kemudian beralih ke menantunya Sultan Trenggono, Hadiwijaya. Dan setelah itu. Demak beralih ke Pajang pada 1546, dan setelah itu beralih ke Mataram, Jawa pedalaman, sehingga sejak itu banyak ajaran Islam dicampur-baurkan dengan ajaran Hindu dan Buddha.


Sebaliknya, strategi Sunan Giri masih tetap berhasil mempertahankan diri sebagai pusat Islam. Anak cucu Sunan Giri mampu mempertahankan keistimewaan Giri sebagai pusat agama. Namun pada fase kesejarahan ini pula, hubungan antara ulama dan penguasa (umaro) di tanah Jawa mulai memperlihatkan benturan politis. Hal ini bermula ketika Sunan Giri mulai melihat keislaman Mataram telah banyak  berubah. Sehingga Sunan Giri terpanggil untuk membantu Adipati Surabaya dan adipati-adipati Madura berontak melawam Mataram (1615).


Bahkan pada 1625 para adipati Jawa Timur tetap melancarkan perlawananan terhadap Mataram di bawah kepeloporan Sunan Giri. Namun sayang perlawanan itu kandas. Sunan Giri ditangkap dan dibawa ke Mataram. Meski kemudian dikembalikan ke Giri, gelar kebesaranya diturunkan dari Sunan jadi Panembahan.


Namun, bara sekam permusuhan ulama dan penguasa Mataram bukannya padam malah tetap membara. Ketika Sultan Agung Mataram wafat, Sunan Amangkurat I, menggantikan ayahnya menduduki tahta kerajaan. Ketika itu, Trunojoyo melancarkan pemberontakan terhadap Sultan Amangkurat I, dibantu oleh Karaeng Galesong dari Makasar, pada 1675. Selain mendapat dukungan penuh dari keturunan-keturunan ulama Giri, Trunojoyo mendapat gelar Kepala Perang Sabil. Seperti halnya Sunan Giri, perlawanan Trunojoyo pun tumpas pada 1979, semasa Mataram di bawah kepemimpinan Amangkurat II. Oleh sebab dukungan penuh dari kompeni Belanda yang waktu itu sedang mengincar Jawa Tengah dan Jawa Timur.


Begitupun, sejarah kelak mencatat bahwa Girilah yang melatarbelakangi perlawanan yang tidak putus-putusnya dari Jawa Timur. Sehingga Pangeran Giri, keturunan paling akhir dari Syech Ainul Yakin, Raden Paku, ditahan dan dihukum mati pula. Keris kebesaran Giri yang bersejarah, yang turut mengalahkan Majapahit bertahun-tahun lamanya, ditahan di Mataram, Sejak itu Giri tidak bangun lagi.


Maka itu, di era Amangkurat II inilah, dalam upaya Mataram untuk menghilangkan unsur-unsur yang berbahaya, sekitar 5000 sampai 6000 Kiai dan santri dihukum di depan umum. Agar jangan sampai ada orang menyebut-nyebut agama Islam yang bersih dan tauhid yang khalis (murni).


Melalui konstruksi kisah tadi, Buya Hamka nampaknya hendak menyajikan sebuah catatan penting. Bahwa sejak era pasca Demak yang kemudian beralih ke Pajang, lalu ke Mataram, Islam yang semual menjadi jiwa pemersatu nusantara, kemudian meredup, oleh sebab pergeseran karakteristik geografis yang semula berada di pesisir yang serba luas membentang, beralih ke daerah pedalaman yang menyempit dan dangkal.


Dari segi sosial-budaya, terjadi peralihan dari tauhid Islam, menjadi percampuran antara tauhid Islam dengan Brahmana Hindu. Sehingga berpindahlah pemusatan dari kepercayaan kepada Allah SWT, ke pemusatan penyembahan kepada Raja. Ditukarlah nama Wali jadi Sunan. Pudarlah keislaman, timbullah kejawaan (Kejawen).


Inilah aspek geopolitik Jawa yang luput dari tinjauan dan telaah para ahli hingga kini. Bahwa sejak pergeseran dari Demak ke Pajang dan Mataram, kian lama kian nyata perbedaan pandangan hidup di antara dua Jawa: Jawa Pedalaman dengan Jawa Pesisir. Apalagi ketika Belanda sebagai unsur bangsa Asing, masuk ke kancah ini, semakin menajam dan meruncinglah perbedaan itu.


Salah satu karakteristik geografis Jawa Pesisir yang secara khusus menarik disorot adalah Pulau Madura. Inilah pulau yang mewakili lingkup pandangan hidup Jawa Pesisir. Pulaunya kecil, tetap semangat Islam telah masuk ke dalam sumsum mereka. Mengingat wataknya yang berjiwa Jawa Pesiri inilah, maka Madura termasuk yang berada di garis depan pendukung berdirinya kerajaan Demak yang dimotori oleh Sunan Bonang.
Watak masyarakatnya berjiwa bahari dan senang berlayar, dan mengembara ke Bugis, Ternate, Pontianak, Malaka dan juga ke Mekah. Meski pulaunya tandus, namun anak-anak Madura tidak pernah merasa dirinya misiki. Kekayaan ada di Laut.


Jiwa masyarakat Madura yang lebih sreg dengan jiwa orang Bugis yang sama-sama suka berlayar, maka tak heran setelah pamor Kerajaan Gowa jatuh, salah seorang bangsawan Gowa (Makasar) Karaeng Galesong mengembara dengan perahu berserta anak buahnya, sampai ke Madura. Inilah yang kemudian menyatukan secara batiniah antara Karaeng Galeson dengan Trunojoyo, salah seorang darah turunan Pangeran Langgar, bersama-sama melancarkan perlawanan kepada Kerajaan Mataram, di bawah kepeloporan Sunan Giri.


Apa sesungguhnya pandangan inti para ulama sehingga mengalami benturan dengan Kerajaan Mataram utamanya pada era Amangkurat I dan II? Pertama, para ulama menentang pandangan bahwa raja merupakan wakil mutlak Allah SWT untuk memerintah alam. Para ulama lebih tertarik akan cara pemerintahan Iskandar Muda Mahkota Alam di Aceh. Yakni kaum agama diberi hak luas menyiarkan Islam dan mengajarkannya.


Raja tidak boleh menenggang hati golongan yang belum Islam sehingga kemajuan Islam terhambat. Apalah artinya tanah Jawa menerima Islam sebagai Agama, padahal hukum agama tidak menjadi kenyataan. Bahkan upacara-upacara kehinduan masih berlaku.
Alhasil, karena emosi yang meluap-luap didorong oleh rasa tauhid yang bergelora di dada, para


BERITA TERKAIT