Sisi Laten Geopolitik Jawa Pedalaman vs Jawa Pesisir dalam Hubungan Penguasa-Ulama

  • 2018-10-23
  • Editor :goly
  • dibaca :2801
Sisi Laten Geopolitik Jawa Pedalaman vs Jawa Pesisir dalam Hubungan Penguasa-Ulama Ilustrasi Wali Songo

KLIKAPA.com - Di era pemerintahan Jokowi, hubungan kekuasaan dengan ulama kelihatan secara kasat mata tidak mesra dan seringkali benturan. Di lapis permukaan, sepertinya itu memang sebatas hubungan politis yang tidak harmonis. Namun menelisik kesejarahannya, terutama di Jawa, ada sesuatu yang lebih laten sifatnya.


Ulama besar kita, Buya Hamka, pernah menulis buku yang cukup mendalam bertajuk Dari Perbendaharaan Lama, Menyingkap Sejarah Islam di Nusantara. Menurut Hamka yang pernah diberi amanah memimpin Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada era pemerintahan Suharto. Sejak peralihan dari era kerajaan Majapahit ke kerajaan Demak, telah dijadikan obyek pemutara-balikan sejarah oleh penjajah Belanda, bahwa runtuhnya Majapahit akibat serangan Islam. Ini merupakan kesalahan yang disengaja terhadap sejarah.


Alhasil, tujuan Belanda berhasil untuk menghilangkan penghargaan terhadap para ulama tingkat tinggi yang waktu itu popular dengan sebutan Para Wali seperti Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Kudus, dan Sunan Kalijaga.
Pemutarbalikan sejarah ini dimotori oleh Prof Snouck Hourgronye, yang mana tujuan straegisnya adalah memutus peran sentral Islam sebagai jiwa pemersatu di Indonesia. Atau dalam istilah Buya Hamka, teguhnya urat keislamanan di Indonesia.


Sehingga fakta sejarah upaya mengusir penjajah portugis dari Malaka seperti yang dilakukan Raden Patah dan Pati Unus, justru tersingkir dari memori kolektif masyarakat nusantara.
Padahal, melalui para ulama tingkat tinggi inilah, penyebaran Islam pertamakali terjadi di bumi nusantara.


Hanya belasan kilometer saja dari kota Surabaya, terdapat bukit Giri. Di sanalah berkubur seorang di antara Wali Sanga, Raden Paku, yang lebih masyhur dengan gelar Sunan Giri. Putra dari Maulana Ishak, teman Maulana Malik Ibrahim. Merekalah penyiar-penyiar Islam yang pertama di tanah Jawa.
Maulana Ishak, kemudian kembali ke Pasai, sementarara Raden Paku alias Sunan Giri dijadikan anak angkat oleh seorang perempuan kaya raya, Nyi Gede Maloka. Setelah beranjak dewasa, Raden

Berita Terkait

Baca Juga