Sisi Laten Geopolitik Jawa Pedalaman vs Jawa Pesisir dalam Hubungan Penguasa-Ulama | Portal Berita yang menyajikan informasi dan berita terbaru hari ini

Close

Sisi Laten Geopolitik Jawa Pedalaman vs Jawa Pesisir dalam Hubungan Penguasa-Ulama

  • 23-10-2018
  • Editor :goly
  • dibaca :221543
Sisi Laten Geopolitik Jawa Pedalaman vs Jawa Pesisir dalam Hubungan Penguasa-Ulama Ilustrasi Wali Songo

Paku mempelajari Islam secara lebih mendalam ke Ampel, dan belajar bersama-sama putra Raden Rahmat (Sunan Ampel), Makhdum Ibrahim. Kelak Makhdum Ibrahim bergelar Sunan Bonang.


Menariknya, Raden Paku dan Raden Rahmat inilah yang kemudian dinilai oleh kanjeng Sunan Ampel sebagai ulama-ulama tingkat tinggi yang mampu berpengetahuan Islam lebih dalam. Sehingga keduanya disuruh berangkat ke luar Jawa dan naik haji ke Mekah. Namun sebelum itu, mereka berdua singgah dulu di Pasai Aceh, untuk menuntut ilmu kepada para ulama di sana. Dan di sana pul Raden Paku  berjumpa kembali dengan ayahnya.


Apakah dari kisah ini tersirat bahwa para ulama yang berpengetahuan mendalam mengenai Islam harus digembleng terlebih dahulu di Pasai Aceh? Ini memang masih merupakan misteri sejarah yang menarik untuk digali lebih jauh.
Yang jelas, kala itu banyak ulama keturununan India dan Persia yang membuka pengajian di Pasai sehingga para ulama di Malaka bila ada yang tersangkut persoalan, ia bertanya ke Pasai.


Adapun ilmu yang dipandang menjadi inti segala ilmu di waktu itu atau yang disebut “Ilmu Sejati” ialah ilmu ketuhanan menurut ajaran tasawuf.
Singkat cerita, setelah kedua pemuda itu mendapat ijasah dari guru, mereka pun kembali ke tanah Jawa. Di antara mereka berdua, Raden Paku lah yang berhasil mendapat Ilmu Laduni, artinya ilmu yang langsung diterima dari Tuhan sehingga gurunya di Pasai memberinya nama yang tinggi, Ainul Yakin.


Maka, siasat ,mereka menyebarkan Islam pun berjalan menurut bakat masing-masing. Sunan Bonang memasukkan pengaruh Islam ke dalam kalangan orang atas, ke Keraton Majapahit, dan membuat tempat berkumpul murid-muridnya di Demak. Adapun Syech Ainul Yakin mengadakan tempat berkumpul di Giri, terdiri dari orang kecil. Sunan Bonang menanamkan pengaruh ke dalam, Sunan Giri selalu mengirim utusan ke luar Jawa. Terdiri dari pelajar, saudagar, dan nelayan, dari pulau Madura sampai Bawean dan Kangean, bahkan sampai ke Ternate dan Haruku.
Siasat Boang memberikan didikan Islam kepada Raden Patah, putra Brawijaya V Majapahit, dengan terlebih dahulu menyediakan Demak Bintoro untuk menegakkan Negara Islam. Jadi Bonang lebih condong mengikuti bakat khususnya sebagai politisi. Adapun Sunan Giri, mengajarkan agama Islam dan mengirim para mubaligh ke mana-mana adalah siasat mendekati masyarakat.


Sayangnya, Sunan Bonang hanya sempat berhasil mendirikan kerajaan Demak dengan membidani kemunculan Raden Patah sebagai Sultan Demak pertama. Namun tujuan strategisnya untuk menjadikan Demak sebagai pusat Islam selama-lamanya, tidak berhasil. Sebab setelah Raden Patah, Pati Unus dan Sultan Trenggono, kemudian beralih ke menantunya Sultan Trenggono, Hadiwijaya. Dan setelah itu. Demak beralih ke Pajang pada 1546, dan setelah itu beralih ke Mataram, Jawa pedalaman, sehingga sejak itu banyak ajaran Islam dicampur-baurkan dengan ajaran Hindu dan Buddha.


Sebaliknya, strategi Sunan Giri masih tetap berhasil mempertahankan diri sebagai pusat Islam. Anak cucu Sunan Giri mampu mempertahankan keistimewaan Giri sebagai pusat agama. Namun pada fase kesejarahan ini pula, hubungan antara ulama dan penguasa (umaro) di tanah Jawa mulai memperlihatkan benturan politis. Hal ini bermula ketika Sunan Giri mulai melihat keislaman Mataram telah banyak  berubah. Sehingga Sunan Giri terpanggil untuk membantu Adipati Surabaya dan adipati-adipati Madura berontak melawam Mataram (1615).


Bahkan pada 1625 para adipati Jawa Timur tetap melancarkan perlawananan terhadap Mataram di bawah kepeloporan Sunan Giri. Namun sayang perlawanan itu kandas. Sunan Giri ditangkap dan dibawa ke Mataram. Meski kemudian dikembalikan ke Giri, gelar kebesaranya diturunkan dari Sunan jadi Panembahan.


Namun, bara sekam permusuhan ulama dan penguasa Mataram bukannya padam malah tetap membara. Ketika Sultan Agung Mataram wafat, Sunan Amangkurat I, menggantikan ayahnya menduduki tahta kerajaan. Ketika itu, Trunojoyo melancarkan pemberontakan terhadap Sultan Amangkurat I,


BERITA TERKAIT